zondag, augustus 06, 2006

PEMBERONTAKAN TOPOKA MELAWAN BELANDA TAHUN 1914

Pemberontakan rakyat Topoka terhadap penjajah Belanda tahun 1914 adalah sekelumit peristiwa sejarah yang terjadi di Kerajaan Luwu dahulu, sebagaimana terjadi pada Kerajaan-kerajaan lain, sebelum keseluruhannya takluk pada Belanda ‘India-Timur’, nantinya menjadi tanah air Republik Indonesia. Topoka ini adalah nama satu dusun yang terletak dilereng gunung antara gunung Topoka dan persawahan Tallang, di Murante, kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, di Sulawesi-Selatan.
Nama Topoka ini tidak terkenal di Indonesia. Nama ini hanya dikenal di Luwu. Masih terlihat pada papan nama Jalanan, selaku simbol peristiwa, dan nama tempat. Nama ini dilihat pada nama Jalan, pada ruas jalanan, dikota-kota Sulawesi Selatan, utamanya didaerah Luwu. Bekas kerajaan Luwu, yang merupakan salah satu dari kerajaan tertua, dan asal dari peradaban ‘Kultur Lagaligo’ dan raja-raja Sulawesi-Selatan, termasuk kerajaan Luwu ini asal tulisan aksara-Bugis Lagaligo. Yang selanjutnya dikelola dibahagian Selatan menjadi aksara Lontara. Aksara ini masih digunakan menulis naskah Bugis dan Makassar.
Nama Luwu, bukannya dikenal selaku asal raja-raja Sulawesi-selatan, yang ada di Sulawesi Selatan saja, malah raja-raja asal Bugis yang pernah dan memerintah di Aceh, Riau dan Serikat Kerajaan Malaysia, mengakui nenek dan moyang mereka berasal dari Bugis-Luwu.
Tetapi kalau kita berada dikota-kota Sulawesi-Selatan dan menanyakan, dimana Topoka, hampir dipastikan, tidak ada orang yang dapat memberikan jawaban, penjelasan dimana persis terletak nama tempat Topoka dimaksud.
Dusun Topoka ini tidak berada dipinggir jalan raya poros Makassar Palopo, melainkan terletak pada posisi disebelah Barat dari Salugalote, desa Murante. Dimana diperkampungan ini sekarang sudah menjadi tempat perkebunan Coklat. Dusun ini dulunya, pada masa dekade pertama Compeny Belanda menundukan dan menduduki pusat pemerintahan Kerajaan Luwu, kota Palopo sekarang.
Dusun Topoka pada masa itu masih didiami oleh penduduk yang kepercayaannya animisme. Dan sangat patuh kepada raja Luwu yang sudah memeluk Agama Islam sejak tahun 1604 yang dibawa datang oleh penyiar agama Islam yang dikenal dengan nama “tiga dato’ – Dato Sulaeman, Dato Bandang, Dato Tiro”. Dato Sulaeman yang didampingi oleh dato lainnya datang ke Luwu yang di terima oleh raja Luwu pada waktu itu adalah “Patiarase” yang setelah memeluk agama islam bernama Andi Abdullah Opu Matinroé Pattimang.
Patimang ibu kota Kerajaan Luwu pada mula datangnya agama Islam ke Kerajaan Luwu.
Setelah pertarungan terakhir di Ponjalaé dimana Menteri Pertahanan Luwu Andi Tadda jadi marhum dalam perlawanan tak seimbang mempertahankan Kedaulatan Kerajaan Luwu. Semangat patriot bertarung, pertarungan yang tidak seimbang antara senjata tajam melawan senjata api; senjata moderen pada masanya yang digunakan kompeni Belanda. Keberhasilan Belanda menduduki kota Palopo, ibu kota Kerajaan Luwu. Belanda selanjutnya mengatur pemerintahan dalam wilaya Luwu yang meliputi dari Poso, Sulawesi Tengah, sampai sungaiTurungpakkaé Kabupaten Wajo dan menyeberang ke Tenggara sampai Kassipute, Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara.
Untuk melancarkan roda penjajahan dari pemerintah kolonial Belanda, Belanda memaksa rakyat membuat poros jalanan dan jembatan-jembatan, pada sungai-sungai besar, utamanya jalanan yang menghubungkan Palopo dengan kota sebelah Selatan, lewat Sengkang menuju Pare-pare ke Makassar.
Pemerintah Belanda memaksa rakyat sesuai dengan sistim yang diperlakukan di Nederland-Indië. Paksaan itu berlaku paling keras dan kejam di Suli. Perlakuan dan tindakan keras ini, bukan dikhususkan dalam pembuatan jalanan saja, tetapi semua sektor. Belanda berlaku kecam dan bengis terhadap peduduk Suli dan kampung-kampung yang termasuk dalam wilayah distrik pemerintahan Suli, juga pemungutan pajak, yang dikenal dalam bahasa Belanda selaku belasting yang dikenal penduduk setempat dengan nama pajak pendapatan.
Dalam menjalankan pemerintahan, pemerintah kolonial Belanda tampa perduli, siapa saja yang terlambat membayar dan menunaikan kewajiban bayar pajak dipukul dan ditahan. Baru dilepas jika pajaknya dibayar lunas. Ada kalangan orang-orang menduga hal penyebab hingga Belanda bertindak bengis dan kejam kepada penduduk Suli dan sekitarnya, dibanding dengan tempat lain dalam wilayah Kerajaan Luwu. Hal ini adalah sebagai pembalasan dan pelampiasan dendam Belanda, karena Suli, adalah tempat tinggal dan tanah kelahiran pahlawan Luwu Andi Tadda yang pertama menentang Belanda, pada saat Belanda pertama datang menjejakan kaki kedalam wilayah Kerajaan Luwu.
Pada masa pembuatan jembatan diatas Sungai Suli yang dilakukan oleh Belanda, rakyat di Suli dan sekitarnya ditindas, dipaksa bekerja secara sewenang-wenang dan dipaksa bekerja siang malam agar jembatan yang dibuat itu cepat selesai. Orang yang dianggap tidak bekerja keras, sebagaimana yang dikehendaki Belanda dipukul dan disiksa oleh petugas secara bengis. Sedangkan mereka yang bekerja tidak dibayar tenaganya.

SEBAB-SEBAB TERJADINYA PEMBERONTAKAN
Perlakuan kejam yang dianggap oleh rakyat Suli dan sekitarnya sudah diluar batas perikemanusiaan, kepala Distrik Suli ‘Andi Mangile’ menyampaikan kepada petugas Belanda agar rakyatnya tidak diperlakukan sewenang-wenang. Tetapi permintaan dari Kepala Distrik tidak diindahkan oleh petugas Belanda, bahkan tidak ditanggapi oleh Petugas pemerintah Belanda. Akhirnya setelah kekejaman Belanda tersebut sudah tidak dapat ditahan oleh penduduk maka bangkitlah amarah mereka melakukan perlawanan.
Perlawanan rakyat ini dimulai dan disusun pelaksanaannya dari dusun Topoka.
Topoka pada masa itu dibawah wilayah distrik Larompong, tetapi lebih dekat ke Suli, sekitar 3 kilometer dari ibu kota distrik Suli. Dimana pada saat itu jembatan Suli sementara dibangun. Masa pembangunan jembatan tsb. tentara Belanda bersama dengan petugas ahli untuk membangun jembatan berkubuh di Suli. Karena penduduk kampung Topoka dan sekitarnya mengalami penderitaan yang sangat mencekam atas perlakuan pemerintah Belanda. Perasaan mereka tidak tertahankan penderitaannya hingga melalui pemuka masyarakat menyampaikan kepada pemerintah Belanda tidak mau lagi turut dalam pembuatan jembatan Suli dan tidak mau membayar pajak kepada Belanda. Sipat pembangkaman dari masyarakat Suli, Belanda tidak dapat mentolerir dan mengambil tindakan menindas rakyat yang dianggap membangkan. Tetapi dilain pihak rakyat Topoka tidak mau tahu tekanan dan ancaman dari Belanda. Mereka tetap tidak mau lagi turut dari perintah yang di keluarkan pemerintah Belanda yang ditujukan kepada rakyat Suli, utamanya rakyat yang ada di Topoka.
Rakyat Topoka, tetap mengadakan kontak dengan pemuka masyarakat dari Tallang, Pasampang, Topaga sampai Tanggai yang terletak di lereng gunung dari arah Barat membujur ke Timur. Selanjutnya mereka berhubungan dengan keluarga mereka di Ikkobajo yang terletak antara Keppe dan Redo.
Dengan persenjataan yang dimiliki masyarakat setempat, di Suli, Murante dan sekitarnya, sebagaimana yang pada umumnya digunakan oleh rakyat pada kerajaan-kerajaan lain pada masanya melawan pemerintah Belanda dan ataupun VOC pada masanya. Senjata-senjata mereka hanya: Tombak, kelewang, parang panjang, keris, badik. Tetapi mereka tidak menghiraukan lagi akibat yang akan dialami selaku balasan yang akan diterima, tidak dapat menimbang lagi akibat-akibat akan menimpa dirinya, mereka melakukan perlawanan, untuk membalas luapan perasaan dendam, atas tindakan yang dilakukan pemerintah Belanda kepada mereka. Dimana hal tersebut masih baru saja dalam ingatannya, sekitar 9 tahun sebelumnya pimpinan mereka, Andi Tadda, gugur dalam pertarungan melawan Belanda untuk mempertahankan kerajaan Luwu, pada waktu pendaratan pertama Belanda di Palopo, di pantai Punjalaé 1906. Dimana umumnya rakyat Topoka turut berperang, bahu membahu bersama dengan Andi Tadda dipantai kota Palopo membendung serangan Belanda dari laut, ketika Belanda berusaha mendaratkan tentaranya. Karena sebelumnya pemerintah Belanda meminta kepada Datu Luwu untuk menempatkan tentaranya di Palopo, tetapi permintaan tersebut ditolak oleh raja Luwu. Kerajaan Lawu pada tahun 1906 diperintah oleh seorang ratu yang bernama Andi Kambo.

PELAKU YANG TERLIBAT PEMBERONTAKAN
Ketika Belanda mendengar berita tentang adanya pembangkangan dari rakyat Topoka, mereka tidak mau membayar rodi atau pajak, Assisten Resident pemerintah Belanda di Palopo mengirim utusan yang bernama “Petoro Dinding” atau Petoro yang miring kepalanya melalui Speetboot menuju ke Larompong, tetapi dia masuk melalui muara Larompong, kemudian mengambil simpang kiri dari sungai Larompong menuju ke Redo, satu dusun dekat dengan “Ikkobajo” sekitar 71 Km dari kota Palopo. Di Ikkobajo utusan Belanda ini, langsung menangkap rakyat setempat yang dianggap pengikut-pengikut dari gerakan Topoka. Ditempat ini terjadi perlawanan sengit oleh rakyat terhadap utusan Belanda tersebut, mengakibatkan hampir 100 orang dari pengikut gerakan Topoka tewas dan mengalami cedera. Ketika tentara Belanda menguasai Ikkobajo dan Redo, mereka melalui jalan darat menuju ke Buntu tepa kemudian menyusuri lereng gunung ke Topaga, dimana sudah bersiap rakyat tanggai, Biru, Topaga dan Tallang akan menghadapi tentara Belanda dengan senjata tajam melawan senjata api.
Pertempuran antara tentara Belanda dengan rakyat Topoka, mengakibatkan gugurnya pahlawan Topoka sepuluh orang dan dari tentara Belanda diantara juga jatuh korban 2 orang. Karena persenjataan tidak seimbang, maka rakyat Topoka mundur, masuk kehutan, kebetulan Topoka adalah nama lembah, lereng gunung, yang lembahnya didiami oleh rakyat petani.
Setelah rakyat Topoka beberapa saat berada dihutan sambil mengatur rencana serangan. Maka pada suatu malam, dalam bulan Februari 1914, ketika hujan deras, rakyat Topoka melakukan serangan mendadak kepada tentara Belanda yang berada di barak-barak, dipinggir sungai Suli. Tentara Belanda ini tidak menyangka serangan ini akan terjadi, karena berlangsung pada dini hari sekitar jam 3 subuh disaat hujan deras.
Akibat dari pemborontakan rakyat Topoka ini Pemerintah Belanda melakukan penangkapan dan pembuangan terhadap tokoh masyarakat yang dianggap ada hubungan baik langsung atau tidak dengan pemborontakan Topoka. Diantaranya adalah Andi Mangile Palempang Suli (kepala distrik Suli), Andi Jusuf Opu Tosibengareng Sulewatang Larompong (Kepala Distrik), Andi Ranreng Opu Toppemanu, Opu Tomusu, Sempo, Lopi dan Pong Timbang.
Semua orang pemuka masyarakat Luwu Selatan tersebut diatas dituduh oleh Pemerintah Belanda selaku toko penggerak dan pemimpin yang membikin rencana perlawanan pemborontakan rakyat Topoka melawan Belanda. Mereka ini adalah pahlawan Luwu dalam pemborontakan Topoka.
Mereka yang namanya terterah diatas di buang ke pulau Jawa pada tahun 1915.

Oleh: Hamus Rippin

zondag, juli 30, 2006

BELOPA IBU KOTA BARU KABUPATEN LUWU

Belopa adalah ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Luwu Sulawesi Selatan yang baru, setelah ratusan tahun, Tanah Luwu atau kerajaan Luwu, kemudian menjadi Kapupaten Luwu ber-ibu kota di Palopo.
Sekarang setelah pembentukan pemerintahan kota Palopo akibat pemekaran dari Kabupaten Luwu tadinya, kini menjadi empat daerah tingkat Kabupaten dan kota, masing-masing: Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu-Utara dan Kabupaten Luwu-Timur.
Setelah Palopo berpemerintahan kota, Kabupaten Luwu memindahkan ibu kota. Sebagaimana dua kabupaten lainnya, Luwu-Utara pemerintahannya berkedudukan di Masamba, Luwu-Timur punya ibu kota di Malili dan kabupaten Luwu menetapkan pusat pemerintahannya di Belopa.
Belopa adalah kota kecil dan baru dalam pembangunan yang dimulai dalam tahun 2003 setelah resmi jadi ibu kota kabupaten. Dapat dibayangkan bagaimana satu ibu kota kecamatan yang tidak memeliki pasilitas-pasilitas bangunan gedung-gedung, selaku prasarana penempatan ibu kota kabupaten, tidak punya gedung-gedung memadai milik pemerintah yang akan menunjang dan memudahkan kelancaran pemidahan dan penempatan kota tingkat kabupaten.
Walaupun demikian kalau melihat rumah-rumah milik penduduk di Belopa, bila dibandingkan dengan ibu kota kecamatan lain di Sulawesi Selatan, kota Belopa ini memang sudah cukup ramai dan padat perkembangannya.
Selaku langka pertama setelah kabupaten Luwu resmi memindahkan ibu kotanya ke Belopa adalah pembangunan kantor Bupati Kepala Daerah Luwu berlokasi disebelah selatan pusat kota, antara poros jalanan negara Makassar-Palopo dengan bukit BuntuTanah yang terletak di tengah persawahan Jawaru atau lembah Séngé.
Tetapi selain pembangunan kantor Bupati, tidak sebatas bangunan kantor itu saja, karena dinas-dinas dan jawatan tingkat kabupaten lainnya memerlukan juga sarana perkantoran belum lagi instansi militer dan kepolisian negara, Kodim, Resort Kepolisian Negara dll.
Semua pembangunan kantor dan sarana perumahan personil dari pegawai tingkat kabupaten Luwu yang pindah dari Palopo ke Belopa memerlukan tempat, lahan, modal dan waktu secara bertahap pelaksanaanya, hingga, untuk merampungkan pemidahan kabupaten ini, mungkin memakan waktu beberapa tahun.
Untuk pengembangan pembangunan kota ini, dimana letaknya diTanahh datar atau lembah persawahan rakyat, sebelum meletakkan bangunan gedung dan perumahan diperlukan tata perkotaan yang baik, utamanya pembangunan kanalisasi, penyaluran air pembuangan kotoran kota yang sekurang-kurangnya lima kanal untuk tahap pertama dengan pengaliran kelaut melalui sungai Tadette, Ulo-ulo dan sungai kecil lainnya disekitar Belopa.
Kota Belopa ini terletak limapuluh Kilometer lebih dari Palopo arah Selatan, yang membelah dua poros Jalanan Negara Makassar-Palopo, jalanraya trans-Sulawesi. Dijantung kota ini terletak persimpangan empat. Kearah Barat ke Bajo, Makalua, Rante Balla, Tabang, terus ke Basten, selanjutanya Latimojong, arah Timur ke Ulo-Ulo pelabuhan dari kota Belopa, ke Selatan dan Utara masing arah Makassar dan Palopo.
Nama Belopa ini baru populer sekitar empat puluhan tahun terakhir. Orang tua-tua dari sekitar Belopa yang berusia tujuh puhan tahun keatas, mengenal nama ‘La-belopa.’
La-belopa dalam perjalanan masa, sebutan ‘La’ pelan-pelan berubah dan akhirnya menghilang tinggal nama Belopa saja.
Arti bahasa daerah Luwu kata Belopa ini, dalam bahasa Indonesia, berarti gaba-gaba (pelepa sagu). Kata La tadinya, julukan atau tempat didapati atau terdapat. Sekitar kota Belopa sekarang masih beberapa kampung yang menggunakan kata La, misalnya: La-uwwa, La-munre, La-unnyi, La-rompong, La-rewa, La-loa, La-bellang dll.
Kota Belopa ini mulai jadi pusat pemerintahan, setelah pembetukan pemerintahan Kecamatan pada awal tahun enampuluh. Sebelum pemerintahan kecamatan, pada waktu itu bernama distrik, distrik Bajo berkedudukan di Bajo sekitar 3 Km dari Belopa. Tetapi sewaktu keamanan baru pulih, ibu kota Kecamatan Bajo dipindahkan ke Belopa sampai terbentuknya kecamatan Belopa, baru kecamatan Bajo kembali ibu kotanya di Bajo.
Letak geografi kota Belopa ini memang strategie untuk regio Selatan Luwu, karena terletak ditengah-tengah dari beberapa kecamatan, yang terletak disebelah Barat adalan kecamatan Bajo, Bastem dan Latimojong, sebelah Selatan kecamatan Suli, Larompong dan Larompong-Selatan, dan sebelah Utara adalah Cilellang, Padangsappa, Bupon, Ponrang dan kecamatan Bua. Sebelah Timur pelabuhan Ulo-Ulo yang terletak dipinggar latu (teluk Bone).
Pengembangan dan penataan kota Belopa ini sangat memungkinkan, karena kota ini terletak ditengah-tengah persawahan sebelah Barat lemba persawahan Rasai membentang ke Timur sampai dipinggir Lamunre dan Launnyi dan sebelah Selatan persawahan Jawaru, membujur dari Kasiwiang sampai pinggir kota Belopa.
Selain dari lembah dan Tanahh persawahan, pinggir kota Belopa ini dihiasa 3 bukit. Bukit Libani terletak disebelah Utara kota Belopa membujur ke Barat. Diapit segi tiga Belopa, Bajo dan Cilellang sebelah Utara. Sebelah Selatan Belopa satu bukit lagi bernama ‘BuntuTanah’ membujur dari Selatan ke Utara, persis dipinggir kota yang panjangnya sekitar 3 Km dan persis melintang di Selatan satu bukit kecil, malah sangat kecil, lagi pendek bernama bukit ‘Buntutoke’. Pangjangnya bukit ini sekitar tigaratus meter dan tingginya kurang dari seratus meter. Belopa ini punya prosfek yang baik, selain punya pelabuhan yang dapat dibentuk tanjung, karena sungai Ulo-Ulo semakin dangkal, juga nantinya akan jadi tempat penampungan comoditie pertanian dan perkebunan di regio Selatan Luwu.
Sebagaimana telah disinggung, di Belopa adalah simpang empat, dari arah Barat kecamatan-kecamatan penghasil beras, bibit coklat, biji kopi dan buah-buahan, durian, duku dan appel dimasa mendatang. Dapat dikatakan dengan membaiknya transportasi dari Belopa ke Ulusalu dan dusun sekitarnya, biji kopi arabika yang dikenal dengan nama kopi arabika Kalosi yang tadinya dipikul penduduk dari daerah Luwu lewat gunung ke daerah Enrekang, nantinya akan diexport sendiri oleh daerah Luwu, dengan demikian tidak terjadi lagi hasil Kapubaten Luwu, dijual dan diexport keluar daerah oleh kabupaten lain, sebagaimana yang terjadi selama ini.
Belopa ini tidak mempunyai arti histori khusus dalam sejarah Tanah Luwu dan pergolakkan di Luwu.
Kota ini sebagaimana kota-kota ibu kota kecamatan di Luwu Regio Selatan lainnya setelah pertengah tahun lima puluh di kosongkan oleh Pemerintah dalam artikata tidak diduduki oleh TNI, dan kuasai oleh pemberontak. Pada awal tahun enam puluh baru tentara kembali memduduki regio Selatan Luwu. Yang pertama berkedudukan di Belopa, kemudian menduduki Cimpu, selanjutnya Suli, kemudian akhirnya Larompong. Sejak saat ini baru Belopa mulai berpungsi menjadi ibu kota kecamatan.
Pada masa kekacauan di Luwu dan Sulawesi-Selatan &Tenggara, Belopa ini tidak pernah menjadi tempat kedudukan pemberontak.
Mereka tidak tertarik karena tidak trategis kedudukannya, Belopa ini terlalu datar, tidak berdekatan hutan dan gunung apalagi tidak mengalir sungai lewat kota ini. Walaupun pusat pemberontakan DI/TII disekitar Belopa, beberapa kilometer ke Barat seperti Rante Balla, Makalua, tempat lahirnya Piagam Makalua oleh DI/TII. Ke arah Selatan misalnya Suli, Labellang, Laloa bekas markas dan kubu besar dari DI/TII.
Sebagaimana dikenal penghasil beras dari Tanah Luwu adalah regio Selatan Luwu dimana disekitar kota Belopa, Suli, Cimpu, Bajo, Seppong, Cilellang sampai Padang Sappa dari nama kampung dan kecamatan disebut diatas inilah yang selaku lumbung beras Luwu sejak dahulu. Hasil beras dari regio ini bukan dikensumen daerah Luwu saja, malah diperjual-belikan ke wilayah kabupaten lain.
Selain dari pada produksi beras, dari Belopa juga disekelilingnya tumbuh bahan makanan pokok lain yang sejak dahulu kala menjadi bahan makanan pokok rakyat Luwu yang dikenal dengan nama Sagu. Dari sekitar Belopa ini pada musim paceklit atau kemarau di Sulawesi Selatan tempat pemunggahan hasil-hasil sagu, pisang dan lain-lain di transpor, dibawa dengan angkutan oto trek ke kota Makassar dan kota-kota lainnya

Hamus Rippin

donderdag, juli 27, 2006

LUWU BERWAJAH BARU

Dalam tahun 2002 Raja Luwu terakhir Andi Jemma, telah dinyatakan presiden RI selaku pahlawan nasional pada tanggal 8 November 2002. Beliua dalam masa revolusi bersama dengan rakyat tana Luwu mendukung sepenuhnya proklamasi 17-8-1945, kemudian mengankat senjata melakukan perlawanan terhadap NICA mempertahankan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ,beliau mempertaruhkan kerajaan, diri dan keluarganya bersama dengan rakyatnya mendukung kemerdekaan Republik Indonesia dicintainya.
Beliau bersama dengan permaisyurinya meninggalkan istananya menyingkir; setelah pertempuran berlangsung di kota Palopo oleh rakyat Luwu melawan tentara NICA tanggal 23 –1-1946.
Hingga tanggal 23 Januari 1946 dinyatakan dan dirayakan oleh rakyat Tana Luwu selaku hari perlawanan semesta rakyat Luwu. Namun beliau sudah lama tiada, telah puluhan tahun marhum. Andi Jemma adalah raja ke 36 dari kerajaan Luwu menurut silsilah keturunan raja-raja Luwu.
Setelah istana kerajaan Luwu diduduki oleh NICA, raja Luwu bersama dengan permaisyurinya Andi Tenripadang menyingkir ke keluar kota Palopo ke perkampungan penduduk dalam wilayah daerah kerajaannya, misalnya ke Lamasi pantai, Wailawiè, Batuputè dan lain tempat, tetapi akhirnya beliau tertangkap oleh Belanda dan dibuang ke Ternate. Sementara rajanya dalam pengasingan, rakyat Luwu diperintah kembali oleh Belanda, tetapi dendam kesumat rakyat Luwu tidak pernah padam. Dendam yang ibarat api dalam sekam.
Daerah kerajaan Luwu setelah pembentukan Kabupaten, seluruh daerahnya masuk didalam wilayah Suwawesi-Selatan sekarang. Namun pada masa sebelum jaman penjajahan; sebelum kolonial Belanda datang, malah sesudah kemerdekaan; Luwu masih luas daerah wilayahnya bila dibanding dengan kawasan yang disebut tana Luwu sekarang.
Luwu sampai tahun enam puluhan masih meliputi Kabupaten Tana-Toraja Sul-Sel dan Kabupaten Kolaka, batasnya buapinang, Sulawesi-Tenggara. Sebelum masa penjajahan, Luwu meliputi Poso-Kolonedale, Sulawesi-Tengah. Siwa Kecamatan Pitumpanua Kabupaten Wajo, mulai dari Buriko sampai batas sungai Akkotengen.
Daerah ini, selama berdirinya mengalami suka-duka. Malah kalau kita tilik dalam sejarah penundukan Kolonial Belanda, salah satu dari kerajaan di Sulawesi Selatan yang tidak lama dibawah kekuasaan Belanda. Karena Belanda baru berhasil menduduki Palopo, ibu kota kerajaan Luwu dalam tahun1905, setelah berlangsung pertempuran dahsyat antara rakyat dan patriot Luwu melawan Kompeni Belanda. Perlawanan rakyat Luwu terhadap serangan Belanda pada saat Kompeni Belanda dari arah Selatan datang menyerang ibu kota tana Luwu dan melakukan pendaratan Palopo dipantai Panjalaè. Disana disambut dengan perlawan oleh rakyat Luwu yang dipimpin oleh Hulubalang kerajaan Luwu Andi Tadda, hingga peristiwa dan perlawanan rakyat Luwu ini disebut perang Punjalaè. Pongjalaè ini pinggiran selatan Tanjung Mas pelabuhan kota Palopo.
Hal ini mungkin dipertanyakan, mangapa bisa terjadi; Goa, Bone dan daerah lain di Sulawesi sudah takluk, masih dalam abad XVII dibawah Kompeni VOC. Apa penyebabnya hingga Luwu tidak langsung takluk pada kompeni. Utamanya pusat pemerintahan Luwu di Palopo. Tidak langsung dicampuri dan diperintah oleh Kompeni Belanda.

Kembali kepada jaman Bahari.
Konon sejarah Luwu ini merupakan simbol dari keturunan raja-raja asal Sulawesi Selatan diluar Sulawesi. Dimanapun mereka berada dan turut duduk dalam pemerintahan pada kerajaan setempat, mereka ini masih tetap mengikut-sertakan silsilah keturunan, nama leluhurnya berasal dari Kerajaan Luwu.
Nama Luwu ini tidak luput pula dihubungkan dengan nama seorang putera perkasa Luwu, yang dimitoskan berkekuatan diatas kekuatan manusia biasa, yang bernama ‘Sawerigading’. Sehingga Luwu dijuluki dengan nama ‘Bumi Sawerigading’. Sawerigading ini adalah putera mahkota kerajaan Luwu. Namun dalam hidupnya Ia tidak pernah menduduki tahta kerajaan di Luwu. Adik perempuannya yang bernama ‘Tenriabeng’ yang dinobatkan ayahnya duduk ditahta memerintah, setelah abangnya pergi mengembara. Menurut kisah-kisah orang tua-tua di tana Luwu, Sawerigading melayari berbagai pulau dikepulauan Bahari sampai ke Cina. Dari kisah-kisah ini dikenal pula di Tana Luwu nama-nama Palempang/ Palembang, Bangkè/ Bangka, Singgaraja/Singaraja, Paluaè/Palu dan lain nama, yang sekarang dikenal dengan nama-nama berbagai kota di berbagai pulau di Indonesia.
Serangkaian dengan kisah ‘sastra Lagaligo’ yang diungkapkan orang tua-tua Luwu, dikisahkan Sawerigading mempunyai seorang putera cerdik dan pandai yang bernama ‘Lagaligo’. Lagaligo inilah yang menciptakan ‘aksara” yang disebut ‘aksara Lagaligo’, yang sampai sekarang dikembangkan menjadi aksara lontara, selaku dasar aksara dari tulisan Bugis dan Makassar. Dalam rangkaian kisah ini pula disebutkan Sawerigading menuju ke Cina dan kembali dengan membawa permaisyuri dari puteri Cina yang bernama ‘ I’ Chu Da’i’.

Dalam jaman revolusi pisik.
Tindakan dan perlakuan kejam Belanda di Sulawesi Selatan yang dipimping oleh Westerling yang menurut sejarah Sulawesi Selatan dikenal dan dikenang dengan korban 40.000 Jiwa, tidak dirasakan langsung di kerajaan Luwu, tetapi pemuda-pemuda Luwu tidak ketinggalan turut mengambil bahagian. Pemuda-pemuda dari tana Luwu keluar dari Luwu, turut bergerilya membantu pemuda-pemuda di daerah lain, hingga di Luwu dijadikan somboyang pemuda pada masa revolusi “Luwu-Maserengpulu-Polombangkeng” pantang menyerah dan tidak akan taklut kepada Belanda. Malah pemuda asal Luwu lainnya menyeberang ke pulau Jawa turut mengambil bahagian, di pulau Jawa bersama pemuda Indonesia lainnya mempertahankan kemerdekaan. Hanya disayangkan karena diantara pemuda-pemuda ini, mereka merasa idenya selalu ditampikkan, dirinya dirasanya diabaikan dan malah disisikan, hingga Kahar Muzakkar akhirnya dinyatakan oleh pemerintah selaku pembangkan dan pemberontak Negara.
Dalam perjalanan sejarah, setelah penyerahan kedaulatan RI oleh pemerintah Belanda. Setelah berlangsung konfrensi Meja Bundar di Den Haag tanggal 29 Desember 1949, Luwu mulai awal tahun limapuluhan merubah sejarah. Mulai dari tahun 1953 Luwu menjadi tempat pusat pergerakan DI/TII, yang membawa gangguan keamanan selama belasan tahun di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Akibat kekacauan dan gangguan keamanan ini, daerah Luwu menjadi salah satu daerah yang tertinggal diposisi belakang dalam berbagai bidang, utamanya pendidikan, ekonomi dan pembangunan. Dapat dibayangkan daerah Luwu ini, setelah pertengahan tahun limaluhan, daerah Luwu yang luasnya lebih dari 17 ribu kilometer bujur sangkar lebih, hanya sekitar tujuh puluh kilo meter saja yang dikuasai oleh pemerintah danTNI. Inipun hanya sepanjang pinggir jalanraya saja, selebihnya dikuasai oleh pemberontak. Hanya sebatas Masamba, Palopo sampai Bua saja.
Pergolakan dan kekacauan di daerah Luwu ini, membawah daerah ini belasan tahun dalam keterkurungan. Potensi alam dan lahan yang dimiliki daerah ini menjadi terbengkalai. Tidak dikelolah apalagi hasilnya diperjual belikan untuk diekspor. Selama kekacauan didaerah ini, Luwu menjadi terisolasi dari daerah luar. Tampuk pimpinan pemerintah baik dari Propensi apalagi dari pusat tidak tertarik datang ke Palopo ibu kota Luwu. Apalagi hubungan lalu-lintas darat antara Makassar dengan Palopo sangat sulit. Hanya satu poros jalanan ke Palopo via Enrekang ke Tana Toraja terus ke Palopo. Poros jalan darat lainnya lewat selatan ke Belopa Kabupaten Luwu dan Siwa Kabupaten Wajo tidak dapat dilalui, karena jalanan mengalami kerusakan total, semua jembatan terendam dalam sungai.
Setelah keamanan di Sulawesi selatan dan Tenggara pada pertengahan tahun enampuluhan pulih, daerah Luwu tidak segera normal, karena sarana jalanan yang rusak tidak mudah ditanggulangi. Walaupun demikian, hasil hutan dan potensi lainnya mulai di garap perlahan, beransur-ansur memberi hasil.
Hasil hutan berbentuk kayu bundar dan rotan sudah mulai di kelola. Begitupun kopra dan hasil pertanian berupa beras sudah dikirim keluar daerah Luwu. Daerah Luwu yang luas; Kabupaten yang terbesar di Sulawesi Selatan, sebahagian besar lahannya adalah hutan belantara. Dibanding dengan jumlah penduduk pada akhir tahun enam puluh, Luwu memiliki penduduk masih jarang untuk mengelolah daerah yang luas.
Kebijaksanaan transmigrasi dari pemerintah pusat, mengirim transmigrasi nasional ke daerah Luwu turut mempercepat perhatian pemerintah pusat ke daerah ini. Transmigrasi nasional ini ditempatkan ditanah-tanah subur dilembah sungai Kalaèna dan tanah-tanah subur lainnya di daerah Luwu-Utara, di Kecamatan Bone-bone, Wotu dan Mangkutana dalam tahun tujuh puluhan. Selain itu terjadi teransmigrasi lokal dan perpindahan penduduk secara suka rela dari dalam wilayah Sulawesi Selatan, contohnya transmigrasi lokal di Kecamatan Malangke. Disanalah dimulai dengan penanaman jeruk manis.
Kehadiran PT INCO mengexpolorasi pertembangan nikkek di Suruako, waktu itu masih kecamatan Nuha, sekarang kabupaten Luwu Timur mempercepat perhatian pemerintah pusat ke Daerah Luwu. Usaha dari perusahaan Canada mengolola tambang nikkel dipinggiran danau tiga seuntai ‘Towoti, Matana dan Mahalona’ mempercepat membanjirnya berbagai suku bangsa Indonesia ke Luwu mencari pekerjaan, malah berbagai bangsa yang turut dalam pembangunan tingkat permulaan yang dilakukan oleh Bechtel & Co..
Dari luar negeri Luwu sudah mendapat pula bantuan melalui USAID yang terkordinasi dalam proyek Luwu, transmigrasi dan irigasi pertanian di wilayah Luwu utara, menjadi sasaran pokok. Kebanyakan proyek dari pusat lebih dekat dengan obyek dan proyek transmigrasi.

Dalam bidang pemerintahan.
Setelah kedaulan RI dicapai, rakyat Luwu berharap untuk dijadikan daerah istimewa, salah satu daerah istimewa setelah Jokyakarta pada masa itu. Alasan raja dan rakyat Luwu, menghaap dan memohon hal ini, karena kerajaan Luwu salah satu kerajaan yang raja dan rakyatnya serentak mendukung dan mempertahan proklamasi kemerdekaan 17-8-1945. Malah sebelum kemerdekaan diproklamirkan oleh Ir Sukarno dan Drs M. Hatta, Andi Jemma pada tanggal 15-8-1945 membentuk “Gerakan Sukarno Muda”. Tetapi impian rakyat dan raja Luwu tidak kunjung datang. Mungkin kerena komunikasi antara Rakyat Luwu dan pemerintah pusat tidak tersambung, hingga impian tetap impian. Setelah keamanan di Luwu mulai pulih, rakyat Luwu dalam tahun enampuluhan bercita-cita untuk menjadi Propensi Daerah Tingkat I, sebelum terbentuk Propensi Sulawesi Tengah. Tetapi sekali lagi mungkin komunikasi tidak bersambung ke pusat, atau tersendat dan terhalang dalam perjalanan hal ini tidak pernah tercapai. Malah yang jadi Propensi adalah Palu dengan nama Propensi Sulawesi Tengah.
Dengan lajunya pembangunan di Luwu, ditunjang jalanraya antara Makassar Malili membelah dua daerah Luwu dari arah Selatan Batu Lappa ke Utara, Timur Malili, yang orang bilang jalanraya terbaik diluar pulau Jawa, yang dibangun dan digunakan pada awal tahun delapanpuluhan, ditambah pula dengan berpungsinya Lapangan Udara Andi Jemma di Masamba, pembangunan di daerah Luwu makin laju, cepat mengimbangi keterbelakangan yang dialami daerah ini selama belasan tahun lamanya.
Setelah terjadi reformasi, dan berlaku undang-undang No.22, merupakan angin buritan yang menopan layar Luwu untuk mewujudkan lahirnya Luwu-Utara, yang beribu kota di Masamba masih dalam kurung waktu tahun 1999. Dan dalam tahun 2002 Palopo berpeluang berfungsi kota otonom Palopo, selain itu, Luwu Timur, selaku penghasil Nikkel terbesar di Kawasan Timur Indonesia menjadi Kabupaten Luwu Timur dengan ibu kota Malili. Terbentuknya Kabupaten Luwu Utara beribu kota di Masamba, Kabupaten Luwu-Timur yang beribu kota di Malili dan terwujudnya permerintahan otonom kota Palopo. Kabupaten Luwu terdesak dan terpaksa memindahkan ibu kota ke Luwu, beribu kota baru di Belopa, lebih 50 Kilometer sebelah Selatan kota Palopo.
Dengan terbentuknya kota Palopo, Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu-Utara, dan Kabupaten Luwu-Timur, dan akan lahir menyusul Kabupaten Luwu Tengah, dengan demikian Luwu mewujudkan Luwu berwajah baru.
Luwu sekarang menjadi beberapa pemerintahan tingkat kabupaten dan kota, hingga Luwu tidak mau diceraikan dalam mewujud “ Tana-Luwu”.
Melihat syarat-syarat yang telah banyak dipenuhi oleh Tana-Luwu, impian rakyat dan politikus dari tana Luwu jangan dibiarkan tetap jadi impian, sebagai mana dialami rakyat Luwu masa lalu, dari satu kekecewaan kekecewaan yang lain untuk mewujudkan Propensi Tana-Luwu. Propensi Luwu Raya sudah sekitar setengah abad menjadi idaman politik rakyat Luwu.


Oleh: Hamus Rippin
-------------------------------------------------------------------------

woensdag, juli 26, 2006

LA GALIGO

LA GALIGO
Epik ini dimulai dengan penciptaan dunia. Ketika dunia ini kosong (merujuk kepada Sulawesi Selatan), Raja Di Langit, La Patiganna, mengadakan suatu musyawarah keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa dan Peretiwi dari alam gaib dan membuat keputusan untuk melantik anak lelakinya yang tertua, La Toge' langi' menjadi Raja Alekawa (Bumi) dan memakai gelar Batara Guru. La Toge' langi' kemudian menikah dengan sepupunya We Nyili'timo', anak dari Guru ri Selleng, Raja alam gaib. Tetapi sebelum Batara Guru dinobatkan sebagai raja di bumi, ia harus melalui suatu masa ujian selama 40 hari, 40 malam. Tidak lama sesudah itu ia turun ke bumi, yaitu di Ussu', sebuah daerah di Luwu', sekarang wilaya Luwu Timur dan terletak di Teluk Bone.
Batara Guru kemudian digantikan oleh anaknya, La Tiuleng yang memakai gelar Batara Lattu'. Ia kemudian mendapatkan dua orang anak kembar yaitu Lawe atau La Ma'dukelleng atau Sawerigading (Putera Ware') dan seorang anak perempuan bernama We Tenriyabeng. Kedua anak kembar itu tidak dibesarkan bersama-sama. Sawerigading ingin menikahi We Tenriyabeng karena ia tidak tahu bahwa ia masih mempunyai hubungan darah dengannya. Ketika ia mengetahui hal itu, ia pun meninggalkan Luwu' dan bersumpah tidak akan kembali lagi. Dalam perjalannya ke Kerajaan Tiongkok, ia mengalahkan beberapa pahlawan termasuklah pemerintah Jawa Wolio yaitu Setia Bonga. Sesampainya di Tiongkok, ia menikah dengan putri Tiongkok, yaitu We Cudai.
Sawerigading digambarkan sebagai seorang kapten kapal yang perkasa dan tempat-tempat yang dikunjunginya antara lain adalah Taranate (Ternate di Maluku), Gima (diduga Bima atau Sumbawa), Jawa Rilau' dan Jawa Ritengnga (kemungkinan Jawa Timur dan Tengah), Sunra Rilau' dan Sunra Riaja (kemungkinan Sunda Timur dan Sunda Barat) dan Melaka. Ia juga dikisahkan melawat surga dan alam gaib. Pengikut-pengikut Sawerigading terdiri dari saudara-maranya dari pelbagai rantau dan rombongannya selalu didahului oleh kehadiran tamu-tamu yang aneh-aneh seperti orang bunian, orang berkulit hitam dan orang yang dadanya berbulu.
Sawerigading adalah ayah I La Galigo (yang bergelar Datunna Kelling). I La Galigo, juga seperti ayahnya, adalah seorang kapten kapal, seorang perantau, pahlawan mahir dan perwira yang tiada bandingnya. Ia mempunyai empat orang istri yang berasal dari pelbagai negeri. Seperti ayahnya pula, I La Galigo tidak pernah menjadi raja.
Anak lelaki I La Galigo yaitu La Tenritatta' adalah yang terakhir di dalam epik itu yang dinobatkan di Luwu'.
Isi epik ini merujuk ke masa ketika orang Bugis bermukim di pesisir pantai Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan bentuk setiap kerajaan ketika itu. Pemukiman awal ketika itu berpusat di muara sungai dimana kapal-kapal besar boleh melabuh dan pusat pemerintah terletak berdekatan dengan muara. Pusat pemerintahannya terdiri dari istana dan rumah-rumah para bangsawan. Berdekatan dengan istana terdapat Rumah Dewan (Baruga) yang berfungsi sebagai tempat bermusyawarah dan tempat menyambut pedagang-pedagang asing. Kehadiran pedagang-pedagang asing sangat disambut di kerajaan Bugis ketika itu. Setelah membayar cukai, barulah pedagang-pedagang asing itu boleh berniaga. Pemerintah selalu berhak berdagang dengan mereka menggunakan sistem barter, diikuti golongan bangsawan dan kemudian rakyat jelata. Hubungan antara kerajaan adalah melalui jalan laut dan golongan muda bangsawan selalu dianjurkan untuk merantau sejauh yang mungkin sebelum mereka diberikan tanggung jawab. Sawerigading digambarkan sebagai model mereka.
[sunting]
La Galigo di Sulawesi Tengah
Nama Sawerigading I La Galigo cukup terkenal di Sulawesi Tengah. Hal ini membuktikan bahwa kawsan ini mungkin pernah diperintah oleh kerajaan purba Bugis yaitu Luwu'.
Sawerigading dan anaknya I La Galigo bersama dengan anjing peliharaanya, Buri, pernah merantau mengunjungi lembah Palu yang terletak di pantai barat Sulawesi. Buri, yang digambarkan sebagai seekor binatang yang garang, dikatakan berhasil membuat mundur laut ketika I La Galigo bertengkar dengan Nili Nayo, seorang Ratu Sigi. Akhirnya, lautan berdekatan dengan Loli di Teluk Palu menjadi sebuah danau iaitu Tasi' Buri' (Tasik Buri).
Berdekatan dengan Donggala pula, terdapat suatu kisah mengenai Sawerigading. Bunga Manila, seorang ratu Makubakulu mengajak Sawerigading bertarung ayam. Akan tetapi, ayam Sawerigading kalah dan ini menyebabkan tercetusnya peperangan. Bunga Manila kemudian meminta pertolongan kakaknya yang berada di Luwu'. Sesampainya tentara Luwu', kakak Bunga Manila mengumumkan bahwa Bunga Manila dan Sawerigading adalah bersaudara dan hal ini mengakhiri peperangan antara mereka berdua. Betapapun juga, Bunga Manila masih menaruh dendam dan karena itu ia menyuruh anjingnya, Buri (anjing hitam), untuk mengikuti Sawerigading. Anjing itu menyalak tanpa henti dan ini menyebabkan semua tempat mereka kunjungi menjadi daratan.
Kisah lain yang terdapat di Donggala ialah tentang I La Galigo yang terlibat dalam adu ayam dengan orang Tawali. Di Biromaru, ia mengadu ayam dengan Ngginaye atau Nili Nayo. Ayam Nili Nayo dinamakan Calabae sementara lawannya adalah Baka Cimpolo. Ayam I La Galigo kalah dalam pertarungan itu. Kemudian I La Galigo meminta pertolongan dari ayahnya, Sawerigading. Sesampainya Sawerigading, ia mendapati bahwa Nili Nayo adalah bersaudara dengan I La Galigo, karena Raja Sigi dan Ganti adalah sekeluarga.
Di Sakidi Selatan pula, watak Sawerigading dan I La Galigo adalah seorang pencetus tamadun dan inovasi.
[sunting]
La Galigo di Sulawesi Tenggara
Ratu Wolio pertama di Buntung di gelar Wakaka, dimana mengikut lagenda muncul dari buluh (bambu gading). Terdapat juga kisah lain yang menceritakan bahwa Ratu Wolio adalah bersaudara dengan Sawerigading. Satu lagi kisah yang berbeda yaitu Sawerigading sering ke Wolio melawat Wakaka. Ia tiba dengan kapalnya yang digelar Halmahera dan berlabuh di Teluk Malaoge di Lasalimu.
Di Pulau Muna yang berdekatan, pemerintahnya mengaku bahwa ia adalah adalah keturunan Sawerigading atau kembarnya We Tenriyabeng. Pemerintah pertama Muna yaitu Belamo Netombule juga dikenali sebagai Zulzaman adalah keturunan Sawerigading. Terdapat juga kisah lain yang mengatakan bahwa pemerintah pertama berasal dari Jawa, kemungkinan dari Majapahit. Permaisurinya bernama Tendiabe. Nama ini mirip dengan nama We Tenyirabeng, nama yang di dalam kisah La Galigo, yang menikah dengan Remmangrilangi', artinya, 'Yang tinggal di surga'. Ada kemungkinan Tendiabe adalah keturunan We Tenyirabeng. Pemerintah kedua, entah anak kepada Belamo Netombule atau Tendiabe atau kedua-duanya, bernama La Patola Kagua Bangkeno Fotu.
Sementara nama-nama bagi pemerintah awal di Sulawesi Tenggara adalah mirip dengan nama-nama di Tompoktikka, seperti yang tercatat di dalam La Galigo. Contohnya Baubesi (La Galigo: Urempessi). Antara lainnya ialah Satia Bonga, pemerintah Wolio(La Galigo: Setia Bonga).
[sunting]
La Galigo di Gorontalo
Legenda Sawerigading dan kembarnya, Rawe, adalah berkait rapat dengan pembangunan beberapa negeri di kawasan ini. Mengikut legenda dari kawasan ini, Sarigade, putera Raja Luwu' dari negeri Bugis melawat kembarnya yang telah hidup berasingan dengan orangtuanya. Sarigade datang dengan beberapa armada dan melabuh di Tanjung Bayolamilate yang terletak di negeri Padengo. Sarigade mendapat tahu bahwa kembarnya telah menikah dengan raja negeri itu yaitu Hulontalangi. Karena itu bersama-sama dengan kakak iparnya, ia setuju untuk menyerang beberapa negeri sekitar Teluk Tomini dan membagi-bagikan kawasan-kawasan itu. Serigade memimpin pasukan berkeris sementara Hulontalangi memimpin pasukan yang menggunakan kelewang. Setelah itu, Sarigade berangkat ke Tiongkok untuk mencari seorang gadis yang cantik dikatakan mirip dengan saudara kembarnya. Setelah berjumpa, ia langsung menikahinya.
Terdapat juga kisah lain yang menceritakan tentang pertemuan Sawerigading dengan Rawe. Suatu hari, Raja Matoladula melihat seorang gadis asing di rumah Wadibuhu, pemerintah Padengo. Matoladula kemudian menikahi gadis itu dan akhirnya menyadari bahwa gadis itu adalah Rawe dari kerajaan Bugis Luwu'. Rawe kemudiannya menggelar Matoladula dengan gelar Lasandenpapang.
[sunting]
La Galigo di Malaysia dan Riau
Kisah Sawerigading cukup terkenal di kalangan keturunan Bugis dan Makasar di Malaysia. Kisah ini dibawa sendiri oleh orang-orang Bugis yang bermigrasi ke Malaysia. Terdapat juga unusur Melayu dan Arab diserap sama.
Pada abad ke-15, Melaka di bawah pemerintahan Sultan Mansur Syah diserang oleh 'Keraing Semerluki' dari Makassar. Semerluki yang disebut ini berkemungkinan adalah Karaeng Tunilabu ri Suriwa, putera pertama kerajaan Tallo', dimana nama sebenarnya ialah Sumange'rukka' dan beliau berniat untuk menyerang Melaka, Banda dan Manggarai.
Perhubungan yang jelas muncul selepas abad ke-15. Pada tahun 1667, Belanda memaksa pemerintah Goa untuk mengaku kalah dengan menandatangani Perjanjian Bungaya. Dalam perjuangan ini,Goa dibantu oleh Arung Matoa dari Wajo'. Pada tahun berikutnya, kubu Tosora dimusnahkan oleh Belanda dan sekutunya La Tenritta' Arung Palakka dari Bone. Hal ini menyebabkan banyak orang Bugis dan Makassar bermigrasi ke tempat lain. Contohnya, serombongan orang Bugis tiba di Selangor di bawah pimpinan Daeng Lakani. Pada tahun 1681, sebanyak 150 orang Bugis menetap di Kedah. Manakala sekitar abad ke-18, Daeng Matokko' dari Peneki, sebuah daerah di Wajo', menetap di Johor. Sekitar 1714 dan 1716, adiknya, La Ma'dukelleng, juga ke Johor. La Ma'dukelleng juga diberi gelar sebagai pemimpin bajak laut oleh Belanda.
Keturunan Opu Tenriburong memainkan peranan penting dimana mereka bermukim di Kuala Selangor dan Klang keturunan ini juga turut dinobatkan sebagai Sultan Selangor dan Sultan Johor. Malahan, kelima-lima anak Opu Tenriburong memainkan peranan yang penting dalam sejarah di kawasan ini. Daeng Merewah menjadi Yang Dipertuan Riau, Daeng Parani menikah dengan puteri-puteri Johor, Kedah dan Selangor dan juga ayanhanda kepada Opu Daeng Kamboja (Yang Dipertuan Riau ketiga), Opu Daeng Menambun (menjadi Sultan Mempawah dan Matan), Opu Daeng Cella' (menikah dengan Sultan Sambas dan keturunannya menjadi raja di sana).
Pada abad ke-19, sebuah teks Melayu yaitu Tuhfat al-Nafis mengandung cerita-cerita seperti di dalam La Galigo. Walaubagaimanapun, terdapat perubahan-perubahan dalam Tuhfat al-Nafis seperti permulaan cerita adalah berasal dari Puteri Balkis, Permaisuri Sheba dan tiada cerita mengenai turunnya keturunan dari langit seperti yang terdapat di dalm La Galigo. Anak perempuannya, Sitti Mallangke', menjadi Ratu Selangi, sempena nama purba bagi pulau Sulawesi dan menikah dengan Datu Luwu'. Kisah ini tidak terdapat dalam La Galigo. Namun demikian, anaknya, yaitu Datu Palinge' kemungkinan adalah orang yang sama dengan tokoh di dalam La Galigo.

Sumber: Wikipedia.org

zaterdag, juli 22, 2006

GEMA LUWU RAYA

Sejarah panjang perjalanan, dan keinginan rakyat dan politik di Luwu membentuk satu provinsi tersendiri dan atau sejenisnya sudah bermula sejak puluhan tahun lalu.
Ketika masih hidup raja (Datu atau Pajung’e Ri Luwu), Andi Djemma’, beliau pernah menemui Presiden R.I, Ir Soekarno pada tahun 1958.
Beliau meminta kepada presiden R.I satu Pemerintahan Daerah Istimewa di Luwu. Alasannya karena raja dan rakyat Luwu, sepenuhnya mendukung proklamasi kemerdekaan R.I, tanggal 17 Agustus 1945 dan malah pada tanggal 18 Agustus 1945, beliau membentuk ‘Gerakan Sukarno Muda’ yang dipimpin langsung oleh beliau; selain itu, beliau memimpin rakyat Luwu tanggal 23 Januari 1946 melawan tentara Sekutu yang diboncengi oleh NICA di kota Palopo, karena kekuatan tidak seimbang, hingga beliua terpaksa meninggalkan istana bersama permaisyurinya, memimpin rakyatnya bergerilya didalam wilaya kerajaannya, hingga tertangkap oleh tentara NICA dan dibuang ke Ternate. Atas jaza beliau ini, beliau telah dianugrahi Bintang Gerilya tertanggal 10 November 1958, dengan nomor 36.822 yang ditanda tangani Presiden Sukarno.
Permintaan dari beliau direstui oleh Presiden Sukarno, namun Daerah Istimewa dimaksud tidak pernah terwujud dalam kenyataan, sebagai mana diharapkan, karena saat itu di Luwu, sementara bergejolak pemberontakan DI/TII yang dipimpin lansung oleh Abdul Kahhar Mudzakkar, dan Datu Andi Jemma wafat pada tanggal 23 Feberuari 1965 sebelum cita-citanya terwujud.

Selanjutnya pada tahun 1963 kembali Panitia Pembentukan Daerah Tingkat I Luwu terbentuk yang diketuai oleh Abdul Rachman Yahya BA, karena masih alasan keamanan didaerah Luwu usaha ini juga mengalami kegagalan disebabkan Penguasa Militer waktu itu Solihin GP selaku Pangdam Hasanuddin dan Gubernur Andi Aripai, melakukan politik adu domba diantara para bangsawan Luwu, sehingga Andi Attas dan Andi Bintang berpihak kepada Penguasa Militer. Maka pupuslah harapan untuk lahirnya Daerah Tingkat I Luwu. Para Panitia Perjuangan pembentukan provinsi Luwu ini, semua dikorbankan dengan dimutasikan keluar Tana Luwu, sampai ada yang dipindahkan ke Irian Jaya (sekarang Papua).

Kemudian pada tahun 1967, kembali Bupati Luwu yang dijabat oleh Andi Rompegading bersama dengan Ketua DPR-Gotong Royong Daerah Tingkat II Luwu Andi Pali, menggaungkan Pembentukan Provinsi Daerah Tingkat I Luwu, juga mengalami nasib sama; beliau diberhentikan menjadi Bupati, malah ditarik dari Palopo ke Makassar dan Andi Pali juga diturunkan dari jabatannya dan diganti oleh bangsawan lain yang pro kepada penguasa meliter. Jadi terjadi nasib sama, provinsi Luwu belum kunjung datang.

Pada tahun 1999, sejalan dengan arah pembaharuan era-reformasi Andi Kaso Pangerang memulai kembali, satu gerakan kearah pembentukan provinsi Luwu, beliau sendiri mengetua Perjuangan Pembentukan Provinsi Luwu ini, juga mendapat tatangan dari pihak panitia Pemekaran Kabupaten Luwu Utara, Perjuangan Provinsi Luwu menjadi korban dari semacam barter lahirnya Kabupaten Luwu Utara dengan terkuburnya usaha pembentukan Provinsi Luwu.
Tahun 2001 bangkit lagi satu panitia perjuangan Provinsi Luwu yang di pelopori oleh dua cendekiawan asal tanah Luwu: Prof Dr H. M. Iskandar, Prof Dr Mansyur Ramli dll, kembali terhambat dengan adanya pemekaran Kabupaten Luwu Timur dan Peningkatan Status Kota administratif Palopo menjadi Kota Madya. Perjuangan Pembentukan Provinsi Luwu kandas lagi untuk kembalinya, karena adanya komitment Andi Hasan Opu To Hatta dengan H.M.Amin Syam selaku ketua Golkar Provinsi yang kini menjadi (gubernur Sulsel) dengan adanya Pemekaran Kabupaten Luwu Timur.

Sejak bulan Pebruari 2004, satu panitia kordinasi yang diketua oleh RAKHMAD SUJONO SH, beliau terpilih untuk menjadi ketua Perjuangan Pembentukan Provinsi Luwu, yang kemudian disebut Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Luwu. Dalam perjuangan ini, Bakor (badan kordinasi) yang dipimpin beliau akan melakukan kordinasi dan mengambil inisiatif seperlunya untuk mendesak dua DPRD Luwu Utara dan Luwu Timur yang belum mau menandatangani rekomensi tanda persetuannya untuk membentuk provinsi Luwu.

Pada tahun 1999, berlaku Peraturan Pemerintah (PP 129 tahun 1999) mensyaratkan hanya 3 Kabupaten/kota saja dapat membentuk satu provinsi, tetapi dengan UU No.32 tahun 2005 yang berlaku sekaarang, telah mensyaratkan 5 kabupaten/kota.

Persoalan yang muncul kemudian dalam perjuangan ini, adalah tekanan Gubernur Sulsel H.M.Amin Syam yang tidak menyetujui Pembentukan Provinsi Luwu. Kepada seluruh Bupati/walikota se tana Luwu, sehingga diantara mereka tidak berani mengambil langka lebil jauh tentang Provinsi luwu. Terlebih lagi Ketua DPRD Luwu Utara dan Ketua DPRD Luwu Timur.

Persoalan lain adalah pro-kontra tentang masuk tidaknya Kab.Tana Toraja dalam bingkai Perjuangan Provinsi Luwu. Untuk menhadapi pro kontra ini Bupati Luwu Drs H. Basmin Mattayang mencanangkan Pembentukan Kabupaten Luwu Tengah, yang terdiri dari Walenrang & Lamasi. Untuk mewujudkan hai itu, H. Basmin Mattayang memekarkan dari 2 kecamatan menjadi 6 kecamatan, diharapkan Kabupaten Luwu Tengah akan terbentuk paling lambat tahun 2010.

Perjuangan Provinsi Luwu menurut pihak panitia dimasa mendatang ditangan Andi Hasan Opu To Hatta, yang tampa menyadari perjalanan masa, atau dengan manuver politik masih menghendaki Daerah Istimewa Luwu. UU no 32 thn 2005 tidak mengatur tentang tata cara pembentukan Daerah Istimewa, Undang-Undang ini hanya mengatur pembentukan provinsi.

Pihak panitia mengajak para Wija to Luwu, menyadari dan turut bertisipasi untuk terwujudnya penbentukan provinsi Luwu, selaku masa depan Tanah Luwu. Wija to Luwu, marilah melakukan sesuatu utnuk tanah Luwu. Kalau kita tidak berbuat untuk hal tanah Luwu, siapa diharap akan melakukan untuk kita. Kalau kita belum wujudkan sekarang, kapan lagi akan terjadi.

Marilah kita satukan tekad dalam semboyang "mesa kada diputuwo, pantang kada dipumate. Toddopuli temmalara".

SEJARAH TANAH DAN KABUPATEN LUWU

Jauh sebelum masa Pemerintahan Hindia Belanda, Luwu telah dikenal dengan kerajaan Luwu purba; perubahan masa kemudian dikenal dengan nama satu Kabupaten Luwu yang pernah bertoritorial, mewilayahi Tanah Toraja (Makale, Rantepao) Sulawesi Selatan, Kolaka Sulawesi Tenggara dan Poso Sulawesi Tengah. Hal sejarah Luwu ini dikenal pula dengan nama tanah Luwu yang dihubungkan dengan nama La Galigo dan Sawerigading.Pada Pemerintahan Hindia Belanda, Sistem Pemerintahan di Luwu dibagi atas dua tingkatan pemerintahan:*. Pemerintahan tertinggi dipegang pegang langsung oleh Pihak Belanda.*. Pemerintahan terendah dipegang oleh Pihak Swapraja.Dengan terjadinya sistim pemerintahan dualisme dalam tata pemerintahan di Luwu pada masa itu; pemerintahan tertinggi diatur Hindia Belanda, dan yang dipegang oleh Swapraja masih dikuasai oleh Belanda, namun secara Deyure Pemerintahan Swapraja tetap ada. Menyusul setelah Belanda berkuasa penuh di Luwu, maka wilayah Kerajaan Luwu diperkecil, dan dipecah sesuai dengan kehendak dan kepentingan Belanda:- Poso (yang msuk Sulawesi Tengah sekarang) yang semula termasuk daerah Kerajaan Luwu dipisahkan, dan dibentuk satu Afdeling.- Distrik Pitumpanua (sekarang Kecamatan Pitumpanua dan Keera) dipisahkan dan dimasukkan kedalam wilayah kekuasaan Wajo.- Kemudian di Luwu dibentuk satu afdeling Luwu yang dikepalai oleh seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Palopo.Dari Afdeling Luwu selanjutnya dibagi menjadi 5 (lima) Onder Afdeling, masing-masing adalah:1. Onder Afdeling Palopo, dengan ibukotanya Palopo.2. Onder Afdeling Makale, dengan ibukotanya Makale.3. Onder Afdeling Masamba, dengan ibukotanya Masamba.4. Onder Afdeling Malili, dengan ibukotanya Malili.5. Onder Afdeling Mekongga, dengan ibukotanya Kolaka.Masa pendudukan tentara Dai Noppong, Pemerintahan Jepang tidak merubah sistem pemerintahan yang telah dibentuk Belanda. Tentara Dai Noppon pada masa berkuasa di Luwu (Tahun 1942), prinsipnya hanya meneruskan sistem pemerintahan yang telah diterapkan oleh Belanda, tetapi penguasanya semua digantikan oleh pembesar-pembesar Jepang.Kedudukan Datu Luwu dalam sistem pemerintahan Sipil, sedangkan pemerintahan Militer dipegang oleh Pihak Jepang. Dalam menjalankan Pemerintahan Sipil, Datu Luwu diberi kebebasan, namun tetap diawasi secara ketat oleh pemerintahan Militer Jepang yang sewaktu-waktu siap menghukum pejabat sipil yang tidak menjalankan kehendak Jepang, dan yang menjadi pemerintahan sipil atau Datu Luwu pada masa itu ialah " Kambo Opu Tenrisompa" kemudian diganti oleh putranya "Andi Jemma" .
Pada bulan April 1950 Andi Jemma dikukuhkan kembali kedudukannya sebagai Datu/Pejuang Luwu dengan wilayah seperti sediakala. Afdeling luwu meliputi lima onder Afdeling Palopo, Masamba, Malili, Tanatoraja atau Makale - Rantepao dan Kolaka. Tahun 1953 Andi Jemma Datu Luwu diangkat menjadi Penasehat Gubernur Sulawesi, waktu itu Sudiro. Ketika Luwu dijadikan Pemerintahan Swapraja, Andi Jemma diangkat sebagai Kepala Swapraja Luwu, pada Tahun 1957 hingga 1960.Atas jasa-jasan beliau terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia, Andi Jemma telah dianugerahi Bintang Gerilya tertanggal 10 Nopember 1958, Nomor 36.822 yang ditandatangani Presiden Soekarno. Pada masa periode kepemimpinan Andi Jemma sebagai Raja Datu Luwu terakhir, sekaligus menandai berakhirnya sistem pemerintahan Swatantra (Desentralisasi). Belasan tanda jasa kenegaraan Tingkat Nasional telah diberikan kepada Andi Jemma sebelum beliau wafat tanggal 23 Pebruari 1965 di Kota Makassar. Presiden Soekarno memerintahkan agar Datu Luwu dimakamkan secara Kenegaraan di ‘Taman Makam Pahlawan’ Panaikang Makassar, yang dipimpin langsung oleh Panglima Kodam Hasanuddin.Selanjutnya pada Masa setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, secara otomatis Kerajaan Luwu berintegrasi masuk kedalam Negara Republik Indonesia. Hal itu ditandai dengan adanya pernyataan Raja Luwu pada masa itu Andi Jemma yang antara lain menyatakan " Kerajaan Luwu adalah bagian dari Wilayah Kesatuan Republik Indonesia".Pemerintah Pusat mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.34/1952 tentang Pembubaran Daerah Sulawesi Selatan bentukan Belanda/Jepang termasuk Daerah yang berstatus Kerajaan. Peraturan Pemerintah No.56/1951 tentang Pembentukan Gabungan Sulawesi Selatan. Dengan demikian daerah gabungan tersebut dibubarkan dan wilayahnya dibagi menjadi 7 tujuh daerah swatantra. Satu diantaranya adalah daerah Swatantra Luwu yang mewilayahi seluruh daerah Luwu dan Tana Toraja dengan pusat Pemerintahan berada di kota Palopo.Berselang beberapa tahun kemudian, Pemerintah Pusat menetapkan beberapa Undang-Undang Darurat, antara lain :1. Undang-Undang Darurat No.2/1957 tentang Pembubaran Daerah Makassar, Jeneponto dan Takalar.2. Undang-Undang Darurat No. 3/1957 tentang Pembubaran Daerah Luwu dan Pembentukan Bone, Wajo dan Soppeng. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang Darurat No. 4/1957, maka Daerah Luwu menjadi daerah Swatantra dan terpisah dengan Tana Toraja.Daerah Swatantra Luwu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Darurat No.3/1957 adalah meliputi :- Kewedanaan Palopo- Kewedanaan Masamba dan- Kewedanaan Malili.Kemudian pada tanggal 1 Maret 1960 ditetapkan PP Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pembentukan Propinsi Administratif Sulawesi Selatan mempunyai 23 Daerah Tingkat II, salah satu diantaranya adalah Daerah Tingkat II Luwu.Untuk menciptakan keseragaman dan efisiensi struktur Pemerintahan Daerah, maka berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara No.1100/1961, dibentuk 16 Distrik di Daerah Tingkat II Luwu, yaitu ; 1. Wara, 2. Larompong, 3. Suli, 4. Bajo, 5. Bupon, 6. Bastem, 7. Walenrang,8. Limbong,9. Sabbang,10. Malangke,11. Masamba,12. Bone-bone,13. Wotu,14. Mangkutana,15. Malili,16. N u h a .Dengan 143 Desa gaya baru. Empat bulan kemudian, terbit SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara No.2067/1961 tanggal 18 Desember 1961 tentang Perubahan Status Distrik di Sulawesi Selatan termasuk di Daerah Tingkat II Luwu menjadi kecamatan. Dengan berpedoman pula pada SK tersebut, maka status Distrik di Daerah Tingkat II Luwu berubah menjadi kecamatan dan nama-nama kecamatannya tetap berpedoman pada SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara No. 1100/1961 tertanggal 16 Agustus 1961, dengan luas wilayah 25.149 km2.Perkembangan dari segi Administratif Pemerintahan di Dati II Luwu, selain pemekaran kecamatan, desa dan kelurahan juga ditetapkannya Dati II Luwu sebagai salah satu Kota Administratip (KOTIP) berdasarkan SK Mendagri No.42/1986 tanggal 17 September 1986.Dengan demikian secara Administratif Dati II Luwu terdiri dari satu Kota Administratip, tiga Pembantu Bupati, 21 Kecamatan Definitif, 13 Kecamatan Perwakilan, 408 Desa Definitif, 52 Desa Persiapan dan Kelurahan dengan luas wilayah berdasarkan data dari Subdit Tata Guna Tanah Direktorat Agraria Propinsi Sulawesi Selatan adalah 17.791,43 km2 dan dikuatkan dengan Surat Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 124/III/1983 tanggal 9 Maret 1983 tentang penetapan luas propinsi, kabupaten/kotamadya dan kecamatan dalam wilayah propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.Luas Wilayah Propinsi Kabupaten/Kotamadya dan Kecamatan yang ada sekarang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan nyata di lapangan oleh karena telah terjadi penyempurnaan batas wilayah antar propinsi di Sulawesi Selatan, maka melalui kerjasama Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Propinsi Sul-Sel dan Topografi Kodam VII Wirabuana, Pemerintah Propinsi Tingkat I Sulawesi Selatan telah berhasil menyusun data tentang luasn wilayah propinsi, kabupaten/ kotamadya dan kecamatan di daerah Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dengan Surat Keputusan Gubernur KDH Tk.I Sul-Sel Nomor : SK.164/IV/1994 tanggal 4 April 1994. Total luas wilayah Kabupaten Luwu adalah 17.695,23 km2 dengan 21 kecamatan definitif dan 13 Kecamatan Pembantu.Pada tahun 1999, saat awal bergulirnya Reformasi di seluruh wilayah Republik Indonesia, dimana telah dikeluarkannya UU No.22 Tahun 1999, tentang Pemerintahan di Daerah, dan mengubah mekanisme pemerintahan yang mengarah pada Otonomi Daerah . Tepatnya pada tanggal 10 Pebruari 1999, oleh DPRD Kabupaten Luwu mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 03/Kpts/DPRD/II/1999, tentang Usul dan Persetujuan Pemekaran Wilayah Kabupaten Dati II Luwu yang dibagi menjadi dua Wilayah Kabupaten dan selanjutnya Gubernur KDH Tk.I Sul-Sel menindaklanjuti dengan Surat Keputusan No.136/776/OTODA tanggal 12 Pebruari 1999. Akhirnya pada tanggal 20 April 1999, terbentuklah Kabupaten Luwu Utara ditetapkan dengan UU Republik Indonesia No.13 Tahun1999.Pemekaran Wilayah Kabupaten Dati II Luwu terbagi atas :I. Kabupaten Dati II Luwu dengan batas Saluampak Kec. Lamasi dengan batas Kabupaten Wajo dan Kabupaten Tator, dari 16 kecamatan, yaitu :1) Kec.Lamasi2) Kec.Walenrang3) Kec.Pembantu Telluwanua4) Kec.Warautara5) Kec.Wara6) Kec.Pembantu Waraselatan7) Kec.Bua8) Kec.Pembantu Ponrang9) Kec.Bupon10) Kec.Bastem11) Kec. Pemb. Latimojong12) Kec.Bajo13) Kec.Belopa14) Kec.Suli15) Kec.Larompong16) Kec.Pembantu LarompongselatanII. Kabupaten Luwu Utara dengan batas Saluampak Kec. Sabbang sampai dengan batas Propinsi Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara, terdiri dari 19 Kecamatan, yaitu :1) Kec.Sabbang2) Kec.Pembantu Baebunta3) Kec.Limbong4) Kec.Pembantu Seko5) Kec.Malangke6) Kec.Malangkebarat7) Kec.Masamba8) Kec.Pembantu Mappedeceng9) Kec.Pembantu Rampi10) Kec.Sukamaju11) Kec.Bone-bone12) Kec.Pembantu Burau13) Kec.Wotu14) Kec.Pembantu Tomoni15) Kec.Mangkutana16) Kec.Pembantu Angkona17) Kec.Malili18) Kec.Nuha19) Kec.Pembantu Towuti

III. Kota Palopo adalah salah saatu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kota Palopo sebelumnya berstatus kota administratif yang berlaku sejak 1986 berubah menjadi kota otonom sesuai dengan UU Nomor 11 tahun 2002 tanggal 10 April 2002. Kota ini memiliki luass wilayah 155,19 Km2 dan berpenduduk sejumlah 120.748 jiwa dan dengan jumlah Kecamatan:
1. Cendana
2. Telluwanua
3. Telluwarue
4. Wara
5. Wara Barat
6. Wawa Selatan
7. Wara Tengah
8. Wara Timur
9. Wara Utara

IV. Kabupaten Luwu Timur adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kabupaten ini berasal dari pemekaran Kabupaten Luwu Utara yang disahkan dalam tahun 2003 dengan UU Nomor 7 Tahun 2003 pada tanggal 25 Februari 2003. Kabupaten ini Utara Teluk Bone dari Sulawesi Selatan dan memiliki luas wilayah 6.944,98 km2, dengan Kecamatan masing-masing:
1. Angkona
2. Burau
3. Malili
4. Mangkutana
5. Nuha
6. Sorowako
7. Tomoni
8. Towuti
9. Wotu.

Setelah Pembagian Wilayah Kabupaten Luwu dari dua Kabupaten menjadi tiga Kabupaten dan satu Kota, maka secara otomatis luas Wilayah Kabupaten ini berkurang dengan Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur dan Kota Palopo berdasarkan batas yang telah ditetapkan, yaitu : - Luas Wilayah Kabupaten Luwu adalah 3.092,58 km2
- Luas Wilayah Kabupaten Luwu Utara adalah 7.502,48 km2
- Luas Wilayah Kota Palopo menjadi 155.19 Km2.
- Luas Wilayah Kabupaten Luwu Timur menjadi 6.944,98 Km2.